tira_missu: (Hm?)
[personal profile] tira_missu

Sejak itu pula otakku selalu menciptakan alasan-alasan yang ntah bisa dikatakan bagus atau tidak tentang kegagalanku. Tentang kepengangguran seseorang yang seharusnya melanjutkan sekolah atau pergi untuk bekerja.
 

“Aku tak menyalahkan kalian.” Kataku pelan hampir berbisik.
 

Mereka masih di sana, bertengkar akan sesuatu yang seharusnya sudah ada patokannya tapi salah satu dari mereka dengan sadar atau tidak, selalu memutar balikkan hal itu dengan kepercayaan diri yang tinggi.
 

Memang aku tak menyalahkan mereka, tapi aku ingin menyalahkan mereka. Apa aku harus menyalahkan diriku sendiri atas semua kebodohan yang terjadi? Atau aku harus menyalahkan Tuhan? Siapa yang mau dilemparkan halilintar dahsyat ke sekujur tubuhnya?
 

Selama ini aku selalu diam mendengarkan dan mengikuti apa yang mereka mau. Berkata, “terserah kalian,” dengan senyum lebar menyakitkan pipi.

Kalau begitu apa keinginanku yang sesungguhnya? Apa impian yang ingin kuraih? Cita-citaku?
 

-Malaikat palsu itu mulai menangis, tersungkur, dan meraung luka di atas lantai yang dingin. Terisak dalam penderitaan keluarga yang dibinanya bersama lelaki setengah tak tahu diri.-
 

Masa depan, cita-cita, dan impian tidak bisa menjadi nomor satu untuk saat ini. Atau mungkin selamanya.
 

Aku sudah tak yakin dan percaya ada harapan untukku menangkap kunang-kunang indah bernama impian. Tidak akan bisa ditempat seperti ini.
 

Di lingkungan yang mana banyak lelaki tolol dan bodoh menuntut hak sedangkan kewajibannya hampir tak pernah ia kerjakan.
 

Apa dia tak malu?
 

Tak tahan dengan pemandangan di depan mata, aku pun bergegas sembunyi ke dalam kamarku di lantai atas. Menutup pintu rapat, menguncinya, dan mengumpat sedikit sambil menendang-nendang pintu yang sudah memudar warna coklatnya tersebut. Sumpah serapahku berlanjut saat menyadari jendela kamarku masih terbuka lebar di malam penuh badai seperti sekarang ini.
 

Rentetan air hujan membasahi bagian ujung meja belajarku yang terletak persis di depan jendela. Umpatanku semakin nanar saat beberapa lembar gambar yang aku kerjakan dari kemarin subuh terbang terbawa angin melewati jendela.
 

Kakiku melangkah tanpa menghiraukan ketakutanku.

From:
Anonymous( )Anonymous This account has disabled anonymous posting.
OpenID( )OpenID You can comment on this post while signed in with an account from many other sites, once you have confirmed your email address. Sign in using OpenID.
User (will be screened)
Account name:
Password:
If you don't have an account you can create one now.
Subject:
HTML doesn't work in the subject.

Message:

 
Notice: This account is set to log the IP addresses of everyone who comments.
Links will be displayed as unclickable URLs to help prevent spam.

coming like a falling star ☆

Seriously this is not about my awfully beautiful life. It's just about my twisted interest, or you can say my super hyper terrible writing exercise.

You know, I don't really have talent in expand the word, beauty it, make such normal characters or even a great plot, but well you have to accept that I'm here to show you that.

Aha.

Not funny.

Half in asdf english but for some reason I want to use my mother language for every post

Don't blame me

Tags

Style Credit