tira_missu: (Hm?)
Plutonious ([personal profile] tira_missu) wrote2014-04-02 06:45 pm
Entry tags:

Evania Daisy's 18th

Sejak itu pula otakku selalu menciptakan alasan-alasan yang ntah bisa dikatakan bagus atau tidak tentang kegagalanku. Tentang kepengangguran seseorang yang seharusnya melanjutkan sekolah atau pergi untuk bekerja.
 

“Aku tak menyalahkan kalian.” Kataku pelan hampir berbisik.
 

Mereka masih di sana, bertengkar akan sesuatu yang seharusnya sudah ada patokannya tapi salah satu dari mereka dengan sadar atau tidak, selalu memutar balikkan hal itu dengan kepercayaan diri yang tinggi.
 

Memang aku tak menyalahkan mereka, tapi aku ingin menyalahkan mereka. Apa aku harus menyalahkan diriku sendiri atas semua kebodohan yang terjadi? Atau aku harus menyalahkan Tuhan? Siapa yang mau dilemparkan halilintar dahsyat ke sekujur tubuhnya?
 

Selama ini aku selalu diam mendengarkan dan mengikuti apa yang mereka mau. Berkata, “terserah kalian,” dengan senyum lebar menyakitkan pipi.

Kalau begitu apa keinginanku yang sesungguhnya? Apa impian yang ingin kuraih? Cita-citaku?
 

-Malaikat palsu itu mulai menangis, tersungkur, dan meraung luka di atas lantai yang dingin. Terisak dalam penderitaan keluarga yang dibinanya bersama lelaki setengah tak tahu diri.-
 

Masa depan, cita-cita, dan impian tidak bisa menjadi nomor satu untuk saat ini. Atau mungkin selamanya.
 

Aku sudah tak yakin dan percaya ada harapan untukku menangkap kunang-kunang indah bernama impian. Tidak akan bisa ditempat seperti ini.
 

Di lingkungan yang mana banyak lelaki tolol dan bodoh menuntut hak sedangkan kewajibannya hampir tak pernah ia kerjakan.
 

Apa dia tak malu?
 

Tak tahan dengan pemandangan di depan mata, aku pun bergegas sembunyi ke dalam kamarku di lantai atas. Menutup pintu rapat, menguncinya, dan mengumpat sedikit sambil menendang-nendang pintu yang sudah memudar warna coklatnya tersebut. Sumpah serapahku berlanjut saat menyadari jendela kamarku masih terbuka lebar di malam penuh badai seperti sekarang ini.
 

Rentetan air hujan membasahi bagian ujung meja belajarku yang terletak persis di depan jendela. Umpatanku semakin nanar saat beberapa lembar gambar yang aku kerjakan dari kemarin subuh terbang terbawa angin melewati jendela.
 

Kakiku melangkah tanpa menghiraukan ketakutanku.