tira_missu: (boy headset)
Aku tak pernah menganggap semua ini adalah lelucon. Rasanya tak pantas tertawa senang saat mengetahui berita duka tersebut.

"Demonica kecil sedang berpetualang di bawah laut bersama 207 penumpang pesawat lainnya."

Tidak lucu, bukan?

Tapi kenapa Steven sepertinya kelihatan bahagia?

tira_missu: (Hm?)

Sejak itu pula otakku selalu menciptakan alasan-alasan yang ntah bisa dikatakan bagus atau tidak tentang kegagalanku. Tentang kepengangguran seseorang yang seharusnya melanjutkan sekolah atau pergi untuk bekerja.
 

“Aku tak menyalahkan kalian.” Kataku pelan hampir berbisik.
 

Mereka masih di sana, bertengkar akan sesuatu yang seharusnya sudah ada patokannya tapi salah satu dari mereka dengan sadar atau tidak, selalu memutar balikkan hal itu dengan kepercayaan diri yang tinggi.
 

Memang aku tak menyalahkan mereka, tapi aku ingin menyalahkan mereka. Apa aku harus menyalahkan diriku sendiri atas semua kebodohan yang terjadi? Atau aku harus menyalahkan Tuhan? Siapa yang mau dilemparkan halilintar dahsyat ke sekujur tubuhnya?
 

Selama ini aku selalu diam mendengarkan dan mengikuti apa yang mereka mau. Berkata, “terserah kalian,” dengan senyum lebar menyakitkan pipi.

Kalau begitu apa keinginanku yang sesungguhnya? Apa impian yang ingin kuraih? Cita-citaku?
 

-Malaikat palsu itu mulai menangis, tersungkur, dan meraung luka di atas lantai yang dingin. Terisak dalam penderitaan keluarga yang dibinanya bersama lelaki setengah tak tahu diri.-
 

Masa depan, cita-cita, dan impian tidak bisa menjadi nomor satu untuk saat ini. Atau mungkin selamanya.
 

Aku sudah tak yakin dan percaya ada harapan untukku menangkap kunang-kunang indah bernama impian. Tidak akan bisa ditempat seperti ini.
 

Di lingkungan yang mana banyak lelaki tolol dan bodoh menuntut hak sedangkan kewajibannya hampir tak pernah ia kerjakan.
 

Apa dia tak malu?
 

Tak tahan dengan pemandangan di depan mata, aku pun bergegas sembunyi ke dalam kamarku di lantai atas. Menutup pintu rapat, menguncinya, dan mengumpat sedikit sambil menendang-nendang pintu yang sudah memudar warna coklatnya tersebut. Sumpah serapahku berlanjut saat menyadari jendela kamarku masih terbuka lebar di malam penuh badai seperti sekarang ini.
 

Rentetan air hujan membasahi bagian ujung meja belajarku yang terletak persis di depan jendela. Umpatanku semakin nanar saat beberapa lembar gambar yang aku kerjakan dari kemarin subuh terbang terbawa angin melewati jendela.
 

Kakiku melangkah tanpa menghiraukan ketakutanku.

tira_missu: (gum guy)
Biarkanlah mereka berpikir bahwa Demonica kecil yang katanya mereka sayangi sedang bermain dengan riang tanpa hembusan nafas di samudra terdalam. Mengabaikan duka mereka pada makam tanpa jasad dengan ukiran penuh cinta di setiap sudut nisan bisunya. Tangis penyesalan dari kedua orangtua dan ekspresi kematian dari saudara yang tak sempat ia kenal juga tidak akan pernah dilirik oleh si pemberani Demonica.

Ini hanya permainan takdir yang dihadiahkan oleh Tuhan kepada semua. Hadiah yang dihasilkan oleh perbuatan sepele yang egois dari lelaki bernama Ayah dan perempuan bernama Ibu. Hadiah manis untuk sang saudara yang hampir tak pernah menerima pengalaman indah dari Ayahanda.

Semoga harimu bertambah indah dengan hadirnya sang Ayah.

Salam manis,

Joshua.



Pesan itu tak pernah dikirim Joshua. Dia berpikir pesan itu lebih terlihat seperti pembukaan sebuah novel misteri yang melankolis. Apalagi ia merasa mereka akan mengira bahwa dirinya juga tak menerima kepergian Dominica dan mengejek tentang 'kekosongan' saudara si gadis.

Sebagai sepupu dan teman satu sekolah Dominica kecil, ia mempunyai firasat-firasat khusus tentang masalah ini. Ia mengenal si manis Demonica cukup baik dan telah mengetahui semua berita yang beredar. Ditambah analisis tertentu pada kenyataan menarik yang ditutupi oleh pihak keluarga besar. Namun bisa jadi firasat itu muncul hanya karna imajinasi liarnya yang berkembang pesat akibat puluhan buku fiksi yang baru-baru ini ia baca.

“Baiklah, kita hentikan ini. Selamat tidur Renna tersayang. Semoga Tuhan selalu membuka jalan-Nya untukmu.”

coming like a falling star ☆

Seriously this is not about my awfully beautiful life. It's just about my twisted interest, or you can say my super hyper terrible writing exercise.

You know, I don't really have talent in expand the word, beauty it, make such normal characters or even a great plot, but well you have to accept that I'm here to show you that.

Aha.

Not funny.

Half in asdf english but for some reason I want to use my mother language for every post

Don't blame me

Tags

Style Credit